Image

Ksatria Kristus

Pengalaman Rohani 30 hari

Latihan Rohani Ignatian selama 30 hari merupakan latihan olah hidup rohani yang diajarkan oleh St. Ignatius dari Loyola. Latihan rohani ini dilakukan oleh para Jesuits. Namun, beberapa tarekat lain juga sering menggunakan metode ini untuk mengolah hidup rohani para anggotanya. Demikian halnya dengan Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia (ADM) menggunakan metode latihan rohani ini sebanyak 2 kali. Pertama, dilakukan pada masa novisiat tahun kedua. Kemudian yang kedua pada saat menjelang mengikrarkan kaul kekal.

Berikut ini kita akan mendengarkan sharing pengalaman rohani salah satu novis ADM yang sudah pernah mengikuti latihan rohani 30 hari (retret agung) sekitar Bulan Agustus 2021 yang lalu.


Kisah kasih bersama Yesus dalam “ Latihan Rohani ” selama 30 hari, berlalu dengan cepat, nikmat dan sarat makna. Bila memutar kembali ingatan pada titik awal perjalanan, kala itu saya  beranggapan bahwa retret agung (Sapaan kami untuk menyebutkan “ Latihan Rohani ) adalah hal berat yang harus dilewati oleh para novis tahun kedua dalam Kongregasi Amalkasih Darah Mulia. Pada kenyataannya, anggapan itu berbanding terbalik. Puji Tuhan, berkat-Nya saya mampu menikmati setiap proses sesuai tuntunan pembimbing.

            Perjalanan retret tak selalu mulus. Sebagai ksatria Kristus yang memerangi diri sendiri, saya harus berjuang melawan keegoisan daging yang terus menerus merayu setiap kali saya bermenung. Melawan ketidakfokusan, rasa lelah, bertahan duduk satu jam tanpa tumbang dan mengeluarkan segala energi untuk mengingat pengalaman beserta setiap pribadi yang ada di dalamnya. Ya, pastinya pengalaman membahagiakan dan bahkan menyakitkan. Bercengkerama bersama Yesus selama satu jam dan lima kali dalam satu hari, menjadikan saya seperti orang sakit yang membutuhkan asupan vitamin 5 kapsul dalam sehari. Ketidakmampuan mengolah pengalaman, membuat saya mengidap penyakit stadium akhir yang sangat menghambat pertumbuhan iman. Setelah mengonsumsi 5 vitamin renungan, saya disadarkan bahwa Tuhanlah dokter dari segala dokter yang mampu menyembuhkan segala luka. Tuhan membukakan mata hati saya untuk menerima, mengolah dan mengampuni segelintir pengalaman pahit masa silam. Saya  percaya Tuhan sedang membentuk melalui benturan dan kegagalan. Ia ingin memastikan seberapa kuat pertahanan iman saya dalam menghadapi hal sulit agar di kemudian hari saya dinyatakan “tahan uji” dalam perkara besar. Saya sungguh bersyukur diberi kesempatan ini, karena dengan 30 hari, mampu melegakan luka yang tertambat selama 20 tahun akhir ini.

            Di balik itu semua, campur tangan Tuhan menyadarkan bahwa saya berharga di mata-Nya. Tuhan menjadikan saya ada di dunia bukan tanpa maksud. Seperti satu helai rambut di antara berlaksa helai yang ada di atas kepala manusia, demikianpun diri saya. Di antara triliunan manusia, saya adalah yang terkecil, walau begitu Tuhan tetap memperhitungkan. Ia tidak mencabut nyawa atau merontokkan semangat saya, melainkan mengokohkan dan menumbuhkan iman saya dari hari ke hari. Saya percaya cinta Tuhan lebih besar jumlahnya dari pada jumlah helaian rambut di kepala manusia.

            Bersama sembilan ksatria Kristus lainnya, saya dihantar untuk menyadari bahwa panggilan bukanlah urusan sementara dan sepele, namun jauh dari itu, panggilan bersifat pribadi dan kekal. Atas bantuan terang Roh Kudus, saya mengambil keputusan tepat. Dengan kebebasan penuh, tanpa paksaan, saya memutuskan untuk memilih jalan hidup sebagai seorang suster ADM. Kemegahan, kenyamanan dunia dan indahnya masa muda memang menggiurkan, namun bukan untuk itu Tuhan menciptakan saya. Melalui persembahan diri yang total untuk Tuhanlah cara saya memuji, memuliakan dan mengabdi-Nya, seperti asas dasar dan tujuan hidup saya.

            Kini, saya siap mengarungi padang gurun dunia. Entah di mana pun diutus, saya akan menjalani dengan gembira dan membagikan buah siap panen dari retret ini pada orang-orang yang dijumpai. Dalam perjalanan padang gurun, ada banyak pasir-pasir kehidupan yang memedihkan mata bahkan membuat buta dan katarak, namun yang pasti, Tuhan sendiri akan menolong saya melewati tantangan dan godaan hidup. Seperti Dia yang setia menuntun, saya pun akan setia dalam panggilan.

            Sekali lagi saya bersyukur untuk kasih Tuhan yang telah menghadiahkan St.Ignatius pada dunia, sehingga darinya saya disadarkan akan tujuan hidup di dunia yaitu untuk memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan. Pada Kongregasi Amalkasih Darah Mulia, melalui 3 pembimbing pilihan Tuhan yang dengan setia menolong dan memberi penguatan dalam bimbingan, Sr Yosita ADM, Sr. Theodora ADM dan Sr. Leonarda ADM. Untuk semua kasih Tuhan yang juga telah mengirim orang tua, kakak, para suster, teman angkatan dalam mengarungi panggilan serta banyak pibadi yang pernah hadir dalam hidup ini, saya mencintai kalian.


Ksatria Kristus, Sr Clarin.

Berita Terkait

Mengubah Wabah Menjadi Berkah

Profil Pestawati 2021

LIVE IN PANGGILAN PART 1

Redemisti nos Domine
in Sanguine Tuo.

prompangsusteradm@gmail.com
(0274) 562739

Jl. Abu Bakar Ali No.12, Kotabaru, Kec. Gondokusuman
Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224