Image

SEJARAH

Sejarah Lahirnya Kongregasi

SEJARAH LAHIRNYA KONGREGASI

 

Lahirnya Kongregasi Suster­Suster Amalkasih Darah Mulia (ADM) ditandai oleh kebaikan Allah dan Penyelenggaraan Ilahi­Nya. Pendiri Kongregasi Suster­suster ADM, Gertrudis Spickermann dilahirkan di Rhein­bach tanggal 30 April 1819. Pada usia 23 tahun, ia memasuki Kongregasi Suster­ suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus di Maastricht, Provinsi Limburg, Belanda Selatan. Ia diberi nama Sr. Seraphine. Sesudah 10 tahun memimpin sebuah rumah yatim piatu di kota Maastricht, oleh Pemimpin Umum Ibu Elisabeth Gruyters, ia diutus ke kota Sittard untuk membuka rumah cabang pertama di luar kota Maastricht. Pada tanggal 6 Oktober 1857,  Sr. Seraphine bersama 6 Suster lainnya, yaitu Sr. Dorothea, Sr. Aloysia, Sr. Magdalena, Sr. Philomena, Sr. Rosalia, dan Sr. Calestina menetap di St. Agnetenberg, Plakstraat di kota Sittard, untuk merawat orang miskin, orang sakit, dan anak­anak yatim piatu. Dewan Paroki menyediakan sebuah rumah tempat tinggal bagi suster­suster itu. Sebuah bangunan bekas biara yang didirikan pada awal abad XVI oleh Suster­suster Dominikanes, namanya “Bukit Santa Agnes/Sint Agnetenberg”. Biara itu sudah lama kosong, tidak terpelihara, rusak dan sangat kotor karena penghuninya lenyap akibat Revolusi Prancis.

Dalam catatan sejarah, pada awal abad XIX saat terjadi Revolusi Prancis biara­biara yang berada di daerah yang dikuasai Prancis ditutup. Para biarawan dan biarawati ditangkap, dihukum mati, atau dicerai­beraikan. Hidup membiara dan semua karya karitatifnya dihancurkan. Sekolah­sekolah, rumah sakit, panti sosial yang didirikan oleh para biarawan­biarawati sudah tidak ada lagi. Setelah Napoleon Bonaparte dikalahkan di Waterloo pada tahun 1815, negara­negara Eropa berangsur­angsur dapat menghirup udara bebas lagi. Tetapi sisa­sisa perang, meninggalkan kehancuran dan penderitaan. Gereja Katolik pun mengalami kesulitan besar, bagaimana membangun kembali dan meneruskan karya amal kasih yang menjadi perwujudan cinta kasih Kristiani. Dalam keadaan darurat seperti itu, banyak pastor mengambil inisiatif mendirikan kongregasi lokal di wilayah parokinya, untuk melayani kebutuhan umat dan masyarakat setempat.

Keadaan kota Sittard yang berjarak kira­ kira 20 KM di sebelah utara kota Maastricht, juga mengalami situasi yang sama dengan tempat­tempat lain yang hancur akibat Revolusi Prancis. Banyak anak yatim piatu, orang jompo, sakit, miskin, dan terlantar yang membutuhkan pertolongan dan perawatan. Pastor Paroki Sittard, Pastor Roersch dan Dewan Paroki memercayakan semuanya itu pada Sr. Seraphine dan para Suster, agar mengurus dan merawat mereka. Dapat dibayangkan, betapa sulit keadaan waktu itu. Rumah yang mereka tempati rusak dan tidak memadai untuk menampung mereka yang harus ditolong. Kebutuhan hidup sehari­hari untuk memelihara dan merawat mereka pun tidak cukup tersedia. Sungguh miskin sekali kehidupan para suster saat itu. Sering kali mereka tidak punya bahan makanan lagi. Dalam keadaan yang serba sulit itu, para Suster berkumpul di kapel, berdoa menyerahkan keadaan mereka kepada Tuhan, dan Tuhan sungguh mendengarkan dan menjawab doa mereka. Bel pintu kadang berdering, ada tamu datang menyerahkan bahan­bahan makanan: gandum, kentang, sayur­mayur, lauk­pauk untuk para Suster dan yang mereka rawat. Tuan Regeut seorang pengusaha yang dermawan juga sering memberi bantuan untuk karya cinta kasih Sr. Seraphine ini. Demikianlah Sr. Seraphine dan para Suster, menjalani perutusannya. Setiap kali datang kesulitan yang hampir tak tertanggungkan, mereka berdoa, bersujud di kaki Salib Yesus, memohon pertolongan kepada Dia yang telah menderita, dan mencurahkan darah sampai sehabis­habisnya demi cinta­Nya kepada manusia. Dan Yesus selalu memberikan jawaban dan pertolongan tepat pada waktunya.

Melihat keadaan yang memprihatinkan, pimpinan kongregasi tidak sampai hati membiarkan Suster­susternya menanggung kesulitan seperti itu. Ibu Elisabeth Gruyters mulai memikirkan untuk memanggil kembali Sr. Seraphine beserta para Suster, agar pulang ke biara di Maastricht.

Di lain pihak, Pastor Paroki Sittard dan dewannya sadar bahwa keadaan yang sulit itu tidak bisa dibiarkan berlarut­larut. Maka Pastor Roersch menghadap Mgr. J.A. Paredis, Uskup Roermond untuk meminta nasihat dan mengusulkan agar para Suster di Sittard memulai sebuah kongregasi sendiri. Dengan seizin Mgr. Paredis, Pastor Roersch membicarakan hal ini kepada Sr. Seraphine. Betapa terkejutnya Sr. Seraphine mendengar usulan itu. Kita bisa membayangkan bagaimana keadaan jiwanya saat itu. Dengan tegas ia menjawab, “Kami telah mengikrarkan kaul dalam tangan Moeder Elisabeth di Maastricht. Kepada beliaulah kami harus menjalankan ketaatan kami, dan kami akan tunduk sepenuhnya kepada keputusan Beliau.”

Mendengar jawaban Sr. Seraphine itu, Pastor Roersch menemui Moeder Elisabeth dan Pastor Paulus Antonius van Baer, Pastor Kepala di Maastricht. Moeder Elisabeth terkejut sekali. Kongregasinya masih muda, perlukah memotong cabang di Sittard untuk dilepas dari induknya? Baik Moeder Elisabeth maupun Sr. Seraphine siang malam berdoa di kapel, mohon terang Roh Kudus dalam menghadapi masalah yang tidak terduga ini.

Dalam keadaan yang serba gelap, Sr. Seraphine menerima sepucuk surat dari Pastor P.A. Van Baer. Beliaulah yang mendampingi Moeder Elisabeth ketika mendirikan Kongregasi Santo Carolus Borromeus. Surat tersebut berbunyi, “Jangan mengira, bahwa kami berkeberatan bahwa di Sittard didirikan sebuah biara Suster­suster Cintakasih. Hubungan cinta kasih antara para Suster di Maastricht dan Sittard tidak akan berkurang. Yakinlah, saya sendiri insaf, bahwa segalanya akan berjalan dengan lancar  dan  bahwa  kamu  akan  maju.  Kami sendiri akan merasa puas, telah mendirikan di Sittard sebuah biara dengan Suster­suster yang mengabdikan diri dalam bidang sosial. Tak ada sesuatu yang lebih berguna lagi... ”

(RH IS hlm. 21).

Beberapa minggu kemudian, Moeder Elisabeth menyampaikan keputusan sementara, kepada Pastor Roersch. Demikian kata­kata yang ditulis Moeder Elisabeth, “Jika Ibu Seraphine cukup tabah hati untuk pengorbanan yang demikian berat, dan tidak gentar menerima tugas yang sungguh sulit, apalagi jika ada Suster­suster yang sama tabah hati untuk menerima tugas itu, pimpinan Kongregasi kami bersedia menyerahkan masalah ini kepada kebijaksanaan Uskup. Bila Bapa Uskup berpendapat bahwa biara di Sittard harus berlangsung terus, Kongregasi kami bersedia berkorban dan melepaskan Suster­suster di Sittard.”

Pastor Roersch sendiri menyampaikan surat itu kepada Sr. Seraphine yang membacanya dengan rasa haru. Sekarang ia menghadapi dua pilihan yang sangat sulit: Kembali ke rumah Induk di Maastricht, ke Kongregasi yang demikian dicintainya,  atau tetap tinggal di Sittard, merawat orang­ orang yang malang, miskin, sakit, anak­anak yatim piatu, dan yang terlantar? Siapa yang akan      memperhatikan      dan      mengurus mereka? Akhirnya ia menjawab. “Kita akan berdoa, agar kehendak Ilahi terlaksana.”

Akhirnya, datang keputusan dari Uskup Roermond. Mgr. J.A. Paredis mengatakan, “Adalah kehendakku, bahwa para Suster itu tinggal di Sittard dan meneruskan pekerjaan mereka atas nama Tuhan. Doa restuku selalu kuberikan kepada mereka.” Moeder Elisabeth dan Sr. Seraphine menerima keputusan ini dengan semangat iman yang dalam, semangat berkorban serta semangat pengabdian kepada kaum fakir miskin, mereka yang lemah dan tersingkir. Moeder Elisabeth sendiri menghadap Mgr. J.A. Paredis, menyampaikan surat resmi yang menyatakan bahwa beliau sendiri bersama dewannya tidak berkeberatan bila para Suster di Sittard mendirikan yayasan sendiri. Para Suster di Sittard juga menyampaikan pernyataan bahwa tujuan mereka tidak ada lain, adalah menjalankan karya­karya sosial karitatif dan pendidikan di antara kaum miskin agar dapat meringankan penderitaan mereka. Maka setelah membaca dan menimbang dengan bijaksana, Mgr. J.A. Paredis selaku Uskup Roermond memutuskan dan menyetujui bahwa Biara di Sittard berdiri sendiri, lepas dari rumah induk di Maastricht. Pelindung biara baru ini adalah St. Joseph.

Meskipun biara Sittard sudah berdiri sendiri, hubungan cinta kasih antara Maastricht dan Sittard tidak dapat dipisahkan. Postulan­postulan pertama masih menerima pendidikan di rumah induk di Maastricht, dan selama tahun­tahun awal, para Suster di Sittard menjalani retret tahunan di Maastricht juga. Pedoman hidup di biara Maastricht juga berlaku bagi biara di Sittard. Hubungan cinta kasih tidak dapat diputuskan bila pemisahan itu terjadi demi Kemuliaan Nama Tuhan, dan demi keselamatan sesama.

 

 

 

 


Berita Terkait

LIVE IN PANGGILAN PART II

RS PALANG BIRU GOMBONG

Kasih Tuhan Sepanjang Tahun

Redemisti nos Domine
in Sanguine Tuo.

prompangsusteradm@gmail.com
(0274) 562739

Jl. Abu Bakar Ali No.12, Kotabaru, Kec. Gondokusuman
Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224